Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

Selasa, 19 Maret 2013

“DILEMATIS ETIKA DALAM BIDANG AKADEMIK DAN BISNIS”


*  Kasus Pertama Dilematis Etika Dalam Bidang Akademik
Seandainya anda adalah orang yang sangat anti memberi contekan kepada teman, tapi sewaktu ulangan ada teman baik anda atau bisa dibilang sahabat anda minta diberi contekan. Jika anda tidak memberi contekan anda tidak enakan karena dia sangat sering membantu anda ketika kesulitan. Dan teman anda akan mengatakan anda pelit dan egois. Apa yang akan anda lakukan menghadapi situasi seperti ini ?? memberinya contekan atau tidak memberinya contekan.
Kondisi ini cukup sulit buat saya melakukan sebuah keputusan. Karena disatu sisi, yang meminta contekan adalah sahabat yang selalu membantu saya dalam kesulitan, tapi disisi lain saya adalah orang yang anti memberikan contekan kepada teman. Jika ada sahabat saya meminta contekan, Sikap/tindakan yang akan saya lakukan adalah dengan terpaksa memberinya contekan, tapi hanya sekali saja saya memberinya contekan. Tapi ketika ulangan selanjutnya saya tidak akan memberi ia contekan lagi. Terserah apa yang akan ia katakan kepada saya, saya tidak akan memperdulikannya. Karena menurut saya memberi contekan itu adalah perbuatan yang tidak baik, itu sama saja membodohi teman. Bukan karena saya pelit atau egois tidak mau memberikan contekan kepada teman. Tapi karena saya mempunyai alasan yang cukup logis. Dan saya akan menasehati ia agar tidak mencontek lagi. Belajar sebelum ulang itu lebih baik. Saya akan memotivasi ia agar selalu belajar, saya akan belajar bersama teman saya itu.
Ketika anda berada di dalam kelas, dan  saat itu anda sedang serius memperhatikan dosen yang sedang mengajar, teman anda ribut sendiri dibelakang padahal mata kuliah yang diajari dosen saat itu sangat penting. Disini anda merasa dilema,knp ? disatu sisi anda ingin menegur teman anda agar tidak ribut dibelakang tapi merasa tidak enak hati karena takut dibilang sok rajin dan egois, disisi lain jika anda tidak menegur teman anda itu, maka anda sendiri menjadi tidak konsentrasi memperhatikan dosen yang sedang mengajar dan itu akan merugikan anda. Sikap/tindakan apa yang akan anda lakukan menghadapi kondisi seperti itu ??
Sikap/tindakan yang akan saya lakukan adalah menegur teman saya itu agar tidak melakukan keributan sendiri dengan cara yang ramah dan sopan, memberikan penjelasan bahwasanya jika kita ribut sendiri itu bisa mengganggu orang lain, selain itu juga jika kita ribut sendiri dan tidak memperhatikan  dosen maka kita akan rugi. Salah satunya rugi waktu, kita sudah capek-capek datang kuliah tapi saat di kelas kita tidak memperhatikan dosen yang sedang mengajar, otomatis kita tidak mendapatkan ilmu apapun.
*  Kasus Pertama Dilematis Etika Dalam Bidang Bisnis
Seandainya anda adalah seorang pemilik warung (warung padang misalnya) yang menjual berbagai macam makanan yang menggunakan cabe. Saat itu sedang terjadi krisis cabe, dimana harga cabe pada saat itu sedang mengalami kenaikan harga. Sebelumnya anda sudah mempunyai pelanggan tetap. Anda merasa dilema saat itu juga. Disini anda mempunyai dua pilihan yaitu menaikkan harga makanan atau tidak menaikkan harga makanan sama sekali. Sikap/tindakan apa yang akan anda lakukan ??
Dalam kondisi seperti ini saya sangat sulit mengambil sebuah keputusan, dimana jika saya menaikkan harga makan diwarung saya, makan pelanggan tetap saya akan mengeluh harganya dinaikkan dan mereka tidak akan membeli makanan diwarung saya lagi. Tapi sebaliknya jika saya tidak menaikkan harga makanannya, maka saya akan mengalami kerugian bukan keuntungan. Jadi menghadapi situasi dan kondisi seperti ini, sikap/tindakan yang akan saya lakukan adalah tidak menaikkan harga makanan, saya mempunyai solusi lain agar walaupun saya tidak menaikakan harga makanan, saya tidak mengalami kerugian. Solusi itu adalah mengurangi jumlah cabe pada makanan tersebut. Dengan begitu saya untuk dan pelanggan saya senang.
Seandainya anda seorang pemilik usaha  bengkel. Usaha bengkel anda sudah terbilang sukses. Dan anda membuka suatu cabang usaha bengkel lagi disuatu perumahan yang memang tempatnya strategis. Tapi disisi lain anda merasa dilema karena beberapa  warga yang tinggal berdekatan dengan bengkel tersebut merasa terganggu dengan suara keras mesin bengkel itu. Sikap/tindakan apa yang akan anda lakukan ???
Sikap atau tindakan yang akan saya lakukan adalah yang pertama saya akan melakukan musyawarah dengan warganya, membicarakannya dengan cara yang bijak. Jika cara pertama masih belum mempunyai titik temunya, maka saya mempunyai cara kedua yaitu dengan menggunakan surat ijin usaha, dimana dengan memperlihatkan surat izin itu otomatis saya mempunyai hak untuk melakukan usaha di tempat itu. Karena saya dilindungi oleh hukum jadi tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi saya melakukan usaha ditempat tersebut.


















Mahasiswa Ideal
            Mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang mempunyai kriteria unik. Seperti berpenampilan rapi, sopan dalam bertutur kata, kritis dalam menanggapi situasi baik di lingkungan kampus maupun di lingkungan masyarakat dimana ia sedang berada, mampu membawa setiap aspirasi masyarakat yang dianggap lebih penting, mempunyai otak yang cerdas, bertanggung jawab, disiplin, rajin dan terampil dalam menganalisa suatu masalah yang sedang terjadi ataupun masalah yang akan dihadapinya nanti.
            Pernyataan yang dikemukakan di atas itu memang benar tapi di sisi lain, ada juga yang memberikan pernyataan tentang mahasiswa ideal versi lain yaitu dari masyarakat itu sendiri yang membuat saya bingung. Masyarakat itu berpendapat bahwa yang dinamakan mahasiswa ideal itu ada beberapa tipe yaitu :
1.      Pasti suka mengkritik pemerintah,
2.      Berorganisasi dimana-mana,
3.      Suka melakukan hal-hal sosial kepada masyarakat,
4.      Suka memperjuangkan hak-hak rakyat, dan lain sebagainya.
Lalu mereka selalu mengatakan bahwasanya mahasiswa seperti ini, tidaklah cocok disebut sebagai mahasiswa ideal :
1.      Selalu say “what ever” pada pemerintah, selagi keputusan pemerintah tidak menggangu hidupnya,
2.      Tidak terlalu suka berorganisasi, hanya mengikuti organisasi yang banyak memberikan manfaat padanya

Dari pernyataan diatas tidak semuanya benar. Tentu saja tidak semua orang setuju bahwa mahasiswa ideal itu adalah seperti tipe pertama dan tipe kedua. Knp ? coba perhatikan beberapa contoh studi kasus dibawah ini, yang mungkin akan sedikit menguak sebenarnya “Mahasiswa Ideal” itu seperti apa ;
Ada dua orang mahasiswa, yang satu adalah mahasiswa dengan tipe pertama  yang suka berorganissasi dimana-mana dan tipe kedua yaitu mahasiswa yang suka mengkritk Pemerintah.
Kasus 1 :
Dengan alasan ingin menambah wawasan berorganisasi mahasiswa dengan tipe pertama tadi bergabung dengan banyak organisasi internal mapun eksternal kampus, hal ini membuat ia menjadi mahasiswa yang super sibuk, bahkan ia menjadi mahasiswa dengan sebutan “KuRa-KuRa” yaitu Kuliah Rapat-Kuliah Kulia-Rapat, sehingga membuat kuliahnya berantakan dan tidak bisa lulus tepat waktu. Meskin ia terbilang “lihai” dalam berorganisasi, akan tetapi ia justru terbilang “kacau” dalam bidang yang ia tempuh. Kacaunya lagi, karena kecerobohannya sembarangan bergabung dengan organisasi, ia malah tercemplung ke dalam organisasi yang terbilang “sesat”, dimana ujung-ujungnya ia harus memiliki banyak masalah dengan banyak pihak karena hal itu.
Sedangkan mahasiswa dengan tipe kedua, karena sangat selektif dalam berorganisasi, ia memilih waktu yang banyak untuk kegiatan akademik kampus, sehingga ia bisa menyelesaikan studinya dengan tepat waktu dan mendapat predikat “memuaskan”. Karena ia selektif memilih organisasi, ia hanya bergabung dengan organisasi yang berkaitan dengan bidangnya, sehingga selain mendapat kecakapan dalam berorganisasi, kemampuan dalam bidangnya pun juga terasah dengan baik disana.

Kasus 2 :
Ketika terjadi berita “Anggota Dewan Korupsi”, Mahasiswa tipe pertama langsung bergabung dengan “jenisnya” untuk melakukan demonstrasi besar-besaran agar anggota dewan tersebut dipecat, dan dihukum seberat-beratnya. Akan tetapi ketika kita melihat dalam kehidupan keseharian mahasiswa tersebut hanyalah diisi dengan “demo’’, “protes”, pengkritikan pemerintah dsb, sehingga kuliahnya menjadi molor. Selain itu juga banyak membuang uang yang diperoleh dari orang tuanya (yang seharusnya untuk kuliah) untuk membiayai demonstrasi tadi. Coba kita renungkan apakah yang dilakukannya bukan sebuah tindakan korupsi ??? Perbedaanya adalah anggota dewan tersebut melakukan korupsi ke “ibu pertiwi” sedangkan mahasiswa itu melakukan korupsi ke “Ibunya sendiri”. Kalau menurut saya itu sama saja, bahkan kelihatannya lebih berdosa korupsi kepada “Ibu kita”.
Sedangkan Mahasiswa tipe ke dua berpendapat bahwa tidak usah demo pun, koruptor itu pasti mendapat balasan yang sesuai, karena satu hal yang ia ketahui bahwa Allah tidak pernah tidur. Ia hanya ingin kuliahnya cepat selesai agar dengan segera bisa bekerja dan meringankan beban orangtuanya atau bahkan membalas kebaikan orantuanya yang selama ini sudah merawat, membesarkan dan menyekolahkannya dengan susah payah. Nah bukankah memang ridho ibu, itu ridho allah ??? dan bukankah surga ditelapak kaki ibu.
Kembali ke ideal atau sempurna. Pada seorang mahasiswa, ia akan dikatakan mahasiswa mendekati ideal, bila :
  1. Mengenali sejarah bangsa hingga dirinya sendiri.
  2. Jujur dalam menilai diri sendiri, dan berlaku jujur pada yang lain.
  3. Berjiwa sosial, atau anti individualistik.
  4. Beretos kerja yang tinggi (kerja ‘keras & cerdas’)
  5. Berakhlak terpuji.
Cloud Callout: Nama :   Wira Sagala
Nim :  20100420030
 

0 komentar:

Posting Komentar