Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

Senin, 30 Juni 2014

Kontroversi Harga BBM



Nama  :  Wira Sagala
NIM  :  20100420030
BAB 1
PENDAHULUAN
      A.  Latar  Belakang

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki berbagai sumber daya alam dan sumber daya manusia indonesia juga cukup besar baik dari segi kuantitas maupun kualitas. dibandingkan negara lainnya potensi pasar indonesia cukup besar sebut saja negara tetangga seperti singapura, malaysia mereka sudah semakin maju. bahkan negara seperti belanda, swiss, jepang mereka negara yang tidak memiliki sumber daya alam yang besar tetapi kemajuannya luar biasa. mengapa indonesia yang begitu banyak sumber daya alam dan manusianya belum mampu seperti mereka? bagaimana kita mengelola negara ini ? kalau kita hanya sebagai bangsa konsumtif maka kita akan dimanfaatkan sebagai pasar bagi banyak negara, karena memang jumlah penduduk kita yang sedemikian besar tingkat kebutuhannya tinggi sungguh menarik bagi negara produsen produk. oleh sebab itulah saatnya indonesia berusaha mengurangi impor dan meningkatkan ekspor. dengan demikian maka neraca keuangan negara akan menjadi sehat. kebijakan menaikan bbm tentu saja akan meningkatkan pemasukan pemerintah dan dapat digunakan untuk melakukan perencanaan pembangunan negara. namun permasalahan klasik negara ini adalah dalam pengaturan anggaran pemerintah. kemanakah prioritas anggaran yang besar tersebut akan dialokasikan?. kalau salah maka menaikan harga bbm justru hanya akan memberatkan masyarakat. beberapa sektor vital yang terpengaruh adalah ekonomi, kesehatan dan pendidikan. dari sektor ekonomi masyarakat, akan berdampak pada menurunya daya beli masyarakat karena kenaikan harga bbm maka akan dibarengi dengan kenaikan tarif listrik, transportasi dan berbagai jenis produk. golongan masyarakat yang paling terkena dampaknya adalah masyarakat miskin. kebijakan pemerintah dalam memberikan bantuan langsung tunai sangat bermanfaat bagi golongan ini. setidaknya dalam jangka pendek ekonomi mereka dapat terbantu. selanjutnya anggaran tersebut harus mampu dipergunakan dalam meningkatkan ekonomi mikro. kegiatan perdagangan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri perlu ditingkatkan dan dipenuhi sehingga mengurangi impor, kemudian jika bisa produk kita di ekspor ke negara lain. janganlah kita menjadi ketergantungan dengan barang impor terus.
biaya pendidikan terutama pendidikan menengah atas dan pendidikan tinggi akan semakin meningkat. jangkauan masyarakat ekonomi rendah akan sulit untuk melanjutkan pendidikan karena terbatasnya pendapatan dan harga yang semakin tidak terjangkau. fasilitas sekolah yang terbatas dan bangunan yang rusak juga masih banyak. belum lagi di beberapa daerah jumlah sekolah tidak sebanding dengan jumlah penduduknya. kebijakan pemerintah dengan memberikan dana bos adalah sudah tepat. subsidi bbm dapat juga perlu diprioritaskan pada pembangunan sekolah, fasilitas sekolah dan beasiswa pendidikan tinggi bagi anak yang berprestasi. sdm berpendidikan adalah investasi bangsa indonesia kedepannya.pemerintah semestinya menyiapkan perencanaan jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia sehingga bisa di latih mencapai tujuan tertentu. seperti contohnya kalau ingin membuat mobil maka kirimlah orang dalam jumlah tertentu untuk belajar ke negara maju. selanjutnya setelah selesai pendidikan mereka diberikan fasilitas untuk mengembangkan kemampuanya hingga mampu membuat pabrik sendiri. dengan demikian maka tidak akan rugi mengirim orang belajar. kenyataanya dari tahun 1970, program beasiswa seperti ini tidak jelas alurnya sehingga tenaga ahli yang sudah datang tidak diberdayakan dengan baik.
sektor kesehatan akan terkena dampaknya dimana biaya kesehatan yang meningkat menyebabkan jangkauan layanan kesehatan menjadi sulit. ekonomi masyarakat yang rendah biasanya berhubungan dengan kondisi sanitasi lingkungan yang tidak sehat. meningkatnya kejadian gizi kurang dan gizi buruk akibat terbatasnya pendapatan. hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah selain hanya memberikan jaminan kesehatan masyarakat juga memberikan pembinaan kesehatan pada masyarakat. peranan puskesmas sebagai ujung tombak kesehatan masyarakat harus dikembalikan peranan utamanya dala upaya pencegahan penyakit. merevitalisasi program posyandu dalam membina kesehatan masyarakat dan mendeteksi secara dini tumbuh kembang anak. 
B.     Rumusan Masalah
1.      bagaimana dengan kontroversi harga BBM ?
2.      apa saja pengaruh dari  kenaikan BBM terhadap APBN ?
3.      apa saja dampak yang terjadi dikehidupan atas kenaikan BBM ?
4.      apa dampak dan antisipasi dari harga minyak ?
            C. Tujuan
1.      Untuk mengetahui kontroversi harga BBM ?
2.      Untuk mengetahui pengaruh dari  kenaikan BBM terhadap APBN ?
3.      Untuk mengetahui dampak yang terjadi dikehidupan atas kenaikan BBM ?
4.      Untuk mengetahui apa dampak dan antisipasi dari harga minyak ?

BAB 2

PEMBAHASAN

           A.      Kontroversi Kenaikan Harga BBM
Gejolak harga minyak dunia sebenarnya sudah mulai terlihat sejak tahun 2000. Tiga tahun berikutnya harga terus naik seiring dengan menurunnya kapasitas cadangan. Ada sejumlah faktor penyebab terjadinya gejolak ini, salah satunya adalah persepsi terhadap rendahnya kapasitas cadangan harga minyak yang ada saat ini, yang kedua adalah naiknya permintaan (demand) dan di sisi lain terdapat kekhawatiran atas ketidakmampuan negara-negara produsen untuk meningkatkan produksi, sedangkan masalah tingkat utilisasi kilang di beberapa negara dan menurunnya persediaan bensin di Amerika Serikat juga turut berpengaruh terhadap posisi harga minyak yang terus meninggi. Hal ini kemudian direspon oleh pemerintah di beberapa negara di dunia dengan menaikkan harga BBM. Demikian juga dengan Indonesia, DPR akhirnya menyetujui rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak pada hari Selasa 27 September 2005 sebesar minimal 50%. Kebijakan kenaikan harga BBM dengan angka yang menakjubkan ini tentu saja menimbulkan dampak yang signifikan terhadap perekonomian sehingga kebijakan ini menimbulkan banyak protes dari berbagai kalangan. Keputusan pemerintah menaikkan harga bensin, solar, dan minyak tanah sejak 1 Oktober 2005 akibat kenaikan harga minyak mentah dunia hingga lebih dari 60 Dolar AS per barel dan terbatasnya keuangan pemerintah ini direspon oleh pasar dengan naiknya harga barang kebutuhan masyarakat yang lain. Biaya produksi menjadi tinggi, harga barang kebutuhan masyarakat semakin mahal sehingga daya beli masyarakat semakin menurun. Secara makro cadangan devisa negara banyak dihabiskan oleh Pertamina untuk mengimpor minyak mentah. Tingginya permintaan valas Pertamina ini, juga menjadi salah satu penyebab terdepresinya nilai tukar  rupiah terhadap dolar AS. Terjadinya hubungan timbal balik antara naiknya biaya produksi dan turunnya daya beli masyarakat berarti memperlemah perputaran roda ekonomi secara keseluruhan di Indonesia. Kondisi ini dapat mempengaruhi iklim investasi secara keseluruhan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek naiknya harga BBM tersebut disikapi oleh pelaku pasar, khususnya pelaku pasar modal sebagai pusat perputaran dan indicator investasi. 
Kontroversi kenaikan harga minyak ini bermula dari tujuan pemerintah untuk menyeimbangkan biaya ekonomi dari BBM dengan perekonomian global. Meskipun perekonomian Indonesia masih terseok mengikuti perkembangan perekonomian dunia, akhirnya kebijakan kenaikan BBM tetap dilaksanakan mulai tanggal 1 Oktober 2005. Akibatnya, perilaku investasi di Indonesia sangat memungkinkan mengalami perubahan. Setiap peristiwa berskala nasional apalagi yang terkait langsung dengan permasalahan ekonomi dan bisnis menimbulkan reaksi para pelaku pasar modal yang dapat berupa respon positif atau respon negatif tergantung pada apakah peristiwa tersebut memberikan stimulus positif atau negatif terhadap iklim investasi. Berdasarkan pada argumentasi di atas, maka dimungkinkan akan terjadi reaksi negatif para pelaku pasar modal setelah pengumuman tersebut. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya bahwa kenaikan harga BBM ini direaksi positif oleh pelaku pasar, maka kesimpulan sederhana dari dampak peristiwa pengumuman tersebut adalah bahwa naiknya harga BBM memberikan stimulus positif pada perekonomian Indonesia.

B.        Pengaruh Kenaikan BBM Terhadap APBN
kenaikan harga minyak mentah tidak terjadi secara tiba-tiba. sudah banyak prakiraan bahwa harga minyak mentah akan terus merangkak naik. majalah business week edisi minggu lalu menurunkan berita dengan judul "next stop: $100 oil?" sekalipun spare capacity dari negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam organisasi negara-negara 
pengekspor minyak (opec) telah meningkat menjadi lebih dari 2 juta barrel per hari atau hamper dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu, itu masih jauh lebih rendah dibanidingkan dengan tahun 2002 yang berada disekitar 5 juta barrel per hari.
Hingga tahun depan, pasar minyak mentah dunia diperkirakan masih tetap ketat sehingga sangat kecil kemungkinan harga turun kembali di bawah 60 dollar as per barrel. Apalagi mengingat ketegangan timur tengah tak kunjung mereda, ditambah lagi hingga tahun 2008 pertumbuhan permintaan lebih besar daripada pertumbuhan produksi.
C.       Pengaruh Kenaikan Harga Bbm Terhadap Kehidupan
1.   Pertumbuhan
Apapun pertimbangan menaikkan harga BBM, bagi kalangan miskin atau nyaris miskin, impliaksinya hanya satu: kenaikan harga kebutuhan pokok.”Belum karuan naik aja, sudah pada naik semua, sembako dan lain-lain. Orang gaji naik cuma 10-20% ini malah lebih,” protes Suryati, seorang buruh anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Seluruh Indonesia, FSPMI asal Bekasi, yang pekan lalu turut berdemo ke depan Istana Merdeka. Buruh lain, seperti Freddy yang datang dari Pasar Minggu, kurang lebih mengeluhkan hal yang sama.”Enggak mungkin dalam kondisi begini naikin harga BBM, karena gaji buruh juga belum mencukupi.” Sebaliknya menurut pemerintah, tak mungkin kas negara terus-menerus dipakai untuk menambal subsidi BBM karena sektor lain menjadi terbengkalai. Menurut catatan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, tahun lalu besaran subsidi kesehatan hanya Rp43,8 triliun, infrastruktur Rp125,6 triliun, bantuan sosial Rp70,9 triliun, sementara subsidi BBM menyedot dana paling besar, Rp165,2 triliun. Padahal itu belum termasuk subsidi listrik yang berjumlah Rp90 triliun, sehingga secara total subsidi energi APBN 2011 mencapai Rp255 triliun. Realisasi subsidi BBM juga cenderung membengkak dari angka acuan karena konsumsi BBM yang tak terkendali.
Tahun 2010 misalnya, subsidi BBM yang mestinya habis pada hitungan Rp69 triliun kemudian membesar menjadi Rp82,4 triliun. Hal sama terulang pada 2011 dimana anggaran subsidi Rp96 triliun kemudian bengkak menjadi hampir dua kali, yakni Rp165,2 triliun. Akibatnya kesempatan berinvestasi dalam bentuk infrastruktur dan pembangunan nonfisik, termasuk kesehatan dan pendidikan, menjadi lebih sedikit. Pengurangan subsidi BBM, menurut pemerintah, akan dialihkan sebagian pada program infratsruktur, meski belum jelas apa saja bentuknya dan bagaimana realisasinya.
Enny Sri Hartati dari INDEF menilai situasi ini sangat tak adil bagi kelompok miskin. “Katanya subsidi untuk kaum miskin. Padahal pengertian miskin menurut BPS kan mereka yang tak mungkin punya motor atau mobil, karena pendapatannya hanya Rp300 ribu (per bulan),”tegas Enny. Pengurangan subsidi BBM, menurut Enny, bisa lebih tepat sasaran kalau kemudian diarahkan pada pembangunan infrastruktur atau program pengentasan kemiskinan lain.
2.      Inflasi
Pengamat ekonomi Aviliani menyatakan, pemerintah harus mewaspadai risiko melambungnya inflasi jika harga bahan bakar minyak (BBM) dinaikkan. Dia memperkirakan, kenaikan harga BBM pada kisaran Rp 1.500 hingga Rp 2.000 akan memicu tingkat inflasi nasional menjadi 6,5 persen pada tahun ini.  ”Jika kenaikan BBM berkisar Rp 1.500 sampai Rp 2.000 kemungkinan inflasi akan bertambah sekitar 1 hingga 2 persen sehingga inflasi nasional akan naik menjadi sekitar 6,5 persen,” kata Aviliani di Jakarta, Minggu (26/2).
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan bahwa laju inflasi umum tahun kalender 2011 mencapai 3,79 persen. Bank Indonesia juga memperkirakan jika harga BBM dinaikan pada kisaran Rp 500 hingga Rp 1.500 maka akan menimbulkan inflasi lebih dari 5,5 persen. Diakui Aviliani, pemerintah tidak memiliki pilihan kecuali menaikan harga BBM akibat melambungnya harga minyak mentah dunia. Hal itu terutama setelah Iran menghentikan ekspornya ke negara Eropa. Harga minyak sempat mencapai 115 dolar AS per barel.
Menurut beliau, inflasi akibat kenaikan harga BBM tidak akan menimbulkan gejolak asalkan rupiah tetap pada kisaran RP 8.500 hingga Rp 9.000 per dolar AS. Selain itu, tingkat konsumsi masyarakat tetap tinggi. “Karena kecenderungan masyarakat Indonesia ketika rupiah menguat, maka konsumsi akan meningkat juga,” ujar Aviliani yang juga Sekretaris Komite Ekonomi Nasional ini. Dengan tingkat konsumsi yang tetap tinggi, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan tetap terjaga di kisaran 6 persen pada tahun ini. Sebabnya, sekitar 64 persen angka pertumbuhan nasional ditopang dari konsumsi.
Aviliani mengatakan, kenaikan harga BBM senilai Rp 2.000 per liter dari harga sekarang akan menghemat anggaran subsidi sebesar Rp 26 triliun dengan inflasi tinggi. Dia melihat guna menekan inflasi tersebut maka pelarangan penggunaan konsumsi BBM bersubsidi khusus untuk mobil pribadi dinilai lebih kecil risiko inflasinya dibanding kenaikan harga BBM untuk semua kendaraan. “Kalau untuk kenaikan harga BBM, berat. Kenaikan harga akan mendorong inflasi dan berimbas pada masyarakat. Paling signifikan adalah mobil pribadi tidak boleh mengonsumsi BBM bersubsidi. Inflasinya tidak akan sebesar kenaikan harga BBM, dan dana penghematannya lebih besar,” kata Aviliani.
Sementara itu, pengamat perminyakan Kurtubi mengatakan, pemerintah harus segera menyesuaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi seiring dengan tren naiknya harga minyak dunia. Dia menjelaskan, krisis finansial yang terjadi di Uni Eropa dan Amerika, serta ketengangan antara Iran dan negara barat terkait sanksi ekspor minyak Iran menjadi faktor utama pemicu naiknya harga minyak dunia. “Kenaikan BBM Rp 1.500 per liter, akan menjadi kebijakan yang paling realistis,” ujar Kurtubi.
Dia memperkirakan, harga minyak dunia akan menembus 120 dolar AS per barel untuk Indonesian Crude Price (ICP), bahkan jika Selat Hortmutz ditutup akan mencapai 120 dolar AS hingga 130 dolar AS per barel. “Harga ICP tidak akan berhenti di angka 120-130 dolar AS per barel, meksipun Selat Hortmuzt tidak ditutup,” katanya. Jika harga BBM jadi dinaikkan, Kurtubi mengingatkan agar pemerintah segera menyampaikan perubahan APBN-P kepada DPR, mengingat UU APBN 2012 melarang kenaikan harga.
      3.   Pengangguran
Dampak kenaikan harga bahan bakar ini terhadap aktivitas ekonomi dikenal dengan istilah multiplier effect. Misalnya jika BBM naik menjadi Rp 6.000/ liter maka akan menaikkan harga barang dan jasa, karena kenaikan harga bahan bakar itu menjadi komponen penting dalam penentuan harga produk barang dan jasa.  Ketika harga barang dan jasa naik, dengan asumsi pendapatan masyarakat tetap maka daya beli masyarakat pun turun.
Bahkan sangat mungkin terjadi bahwa pendapatan masyarakat tidak selalu naik sebanding dengan kenaikan harga BBM. Akibat lebih lanjut, jika harga barang dan jasa naik maka produk domestik tidak dapat bersaing dengan produk asing yang membanjiri Indonesia. Dampak lebih lanjut adalah penjualan industri turun, omzet turun, pendapatan masyarakat turun. Akibat lebih lanjutnya adalah PHK dan naiknya angka pengangguran.
Dalam waktu yang bersamaan, ketika harga BBM akan naik, muncullah program bantuan tunai yang digulirkan pemerintah dengan tujuan meredam dampak sosial ekonomi masyarakat, yang disebut BLSM.  Program  bantuan tersebut bersifat konsumtif, sesaat, tampak sebagai kebijakan tambal sulam, tidak dapat memberdayakan ekonomi masyarakat, sering salah sasaran, dan justru akan menghambat tumbuhnya potensi-potensi ekonomi masyarakat.
 yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah agar kebijakan pemerintah direspons positif atau good news dan dapat mengurangi protes serta demo mahasiswa dan masyarakat, maka sebaiknya semua aktivitas pemerintah dikelola dan dikomunikasikan kepada publik secara transparan, fairness, serta informasi tersebut mudah diakses masyarakat luas. Jika masyarakat mengetahui dengan jelas, fenomena riil penyebab kenaikan BBM ataupun kebijakan lain, masyarakat akan mudah menerima serta menjalankan program-program pemerintah tersebut dengan baik. Keterlibatan dan pengakuan akan keberadaan masyarakat dalam kebijakan, akan meningkatkan komitmen dan kesungguhan masyarakat untuk menjalankan semua program pemerintah. Bantuan langsung sementara masyarakat sebaiknya diarahkan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat, misalnya mengoptimalkan pembangunan infrastruktur sehingga aktivitas ekonomi masyarakat bisa meningkat lebih cepat dan menurunkan ekonomi biaya tinggi.
Persoalan kemacetan jalan harus secepatnya ditangani karena hal itu akan mendorong meningkatnya biaya tinggi bagi masyarakat. Semua kebijakan pemerintah harus konsisten dan berkesinambungan antara satu dan yang lain sehingga tidak terkesan tambal sulam hingga mengecewakan dan menimbulkan persepsi negatif dari masyarakat.
     4.      Neraca Pembayaran
Bank Indonesia mendukung kenaikan harga bahan bakar minyak karena jika tidak dilakukan turut memperbesar defisit neraca pembayaran akibat pembengkakan konsumsi komoditas itu.Satu sisi, dampak dari kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bakal mendorong inflasi di atas target apabila kenaikan di atas Rp1.000 per liter. Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan setiap kebijakan pasti ada dampak yang harus ditanggung. Namun, ada dampak positif juga yang diperoleh dari kenaikan harga BBM, karena mengurangi subsidi dan konsumsi masyarakat. “Sebetulnya terus terang situasi kalau tidak dilakukan kenaikan harga, bukan hanya APBN kesulitan. Neraca pembayaran kita pun kesulitan. Mulai tengah tahun lalu neraca migas kita defisit. Padahal dari 50 tahun lalu surplus,” ujarnya di Jakarta, hari ini (23/02). Dia mengutarakan total ekspor migas nasional dibandingkan dengan impor jauh lebih besar impornya. Hal itu,  lanjutnya, turut memperketat transaksi berjalan dari neraca pembayaran.

   D.     Dampak Dan Antisipasi Harga Minyak
Kenaikan harga minyak mentah tidak terjadi secara tiba-tiba. Sudah banyak prakiraan bahwa harga minyak mentah akan terus merangkak naik.
Dengan kecenderungan harga minyak yang bertambah "liar", kita patut mempertanyakan mengapa pemerintah dan DPR mematok asumsi harga minyak 60 dollar AS per barrel dalam APBN 2008. Dampak lonjatkan harga minyak bumi terhadap APBN sebenarnya bisa diminimalkan apabila kita mampu meningkatkan produksi minyak mentah. APBN 2008 memang mencantumkan kenaikan asumsi produksi (lifting) minyak dari 950.000 barrel sehari menjadi 1,034 juta barrel sehari. Namun, pengalaman selama delapan tahun terakhir menunjukkan, asumsi APBN untuk lifting minyak lebih kerap dikoreksi ketimbang ke atas, sama kerapnya dengan perubahan asumsi-asumsi tersebut tak hanya sekali diubah dalam satu tahun anggaran. Penyesuaian yang kerap terjadi di dalam tahun anggaran berjalan menunjukkan kualitas perencanaan yang buruk. Sudah saatnya kita memiliki system anggaran yang lebih berkualitas dan akurat agar fungsi anggaran untuk menggerakkan pembangunan bisa lebih optimal.
Sayangnya, kita menjumpai ruang yang cukup leluasa untuk meningkatkan prduksi  minyak mentah. Dalam jangka pendek peningkatan produksi tak mungkin dari lading-ladang besar. Satu-satunya kemungkinan adalah dari lading-ladang kecil, dibutuhkan teknologi yang lebih baru dan lebih mahal, yang berarti harus ada investasi baru. Sementara itu, para pengusaha minyak masih enggan melakukan investasi baru di tengah regulasi yang belum menentu dan respon dari regulator. Departemen ESDM dan BP Migas yang sangat lamban. Sudah saatnya Presiden mengambil langkah-langkah tegas untuk mengamankan kebijakan energy nasional, termasuk melakukan peremajaan total di pucuk pimpinan Departemen ESDM dan BP Migas. Jika produksi tidak meningkat dan pertumbuhan konsumsi BBM di dalam negeri tetap melaju seperti sekarang. Jiak produksi tidak meningkat dan pertumbuhan konsumsi BBM di dalam negeri melaju seperti sekarang, sudah hamper bisa dipastikan pada triwulan terakhir tahun ini kenaikan harga minyak akan berdampak terhapad kenaikan deficit APBN. Jadi, peningkatan deficit lebih disebabkan penurunan produksi ketimbang kenaikan harga minyak mentah. Betapa sensitive perubahan asumsi produksi terlihat dari perhitungan setiap penurunan produksi minyak mentah sebesar 50.000 barrel per hari berpotensi meningkatkan deficit APBN sebesar RP 4 triliun. Kenaikan harga minyak mentah baru berdampak terhadap kenaikan deficit APBN pertumbuhan konsumsi BBM di dalam negeri terus menigkat dan penyelundupan BBM ke luar negeri marak kembalik akibatdisparitas harga di dalam negeri bertambah lebar terjadi tahun 2003-2004. Pda tahun 2004 setiap kenaikan harga sebesar 10 dollar AS di atas harga asumsi APBN akan menambah deficit sebesar 2 triliun.
Dampak tak langsung harus diperhitungkan pula dampak tak langsung dari kenaikan harga minyak terhadap APBN dan perekonomian. Pertama, pertumbuhan ekonomi ditargetkan sebesar 6,8 persen untuk tahun 2008 hampir mustahil bisa dicapai. Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang dipangkas dari 5,2 persen menjadi 4,8 persen untuk tahun 2008. Dana Moneter Internasional memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan hanya 6,1 %.
Dari gambaran kondisi perokonomian yang lebih suram ini, sudah tentu posisi penerimaan pajak pun akan turun. Dengan demikian, deficit APBN akhirnya semakin menganga dan bisa mendekati 2 persen dari produk domestic bruto.
Kedua, kenaikan harga bahan bakar minyak dan tariff listrik nonsubsidi akan menambah beban sector industry dan pada gilirannya sector pertanian pangan. Sector industry manufaktur yang pertumbuhannya sudah mulai kembali merangkak anik sampai ke tingkatan 5, 5 persen pada triwulan kedua tahun 2007 diperkirakan dangat sulit berlanjut mendekati pertumbuhan produk domestic, apalagi melampauinya.
Pilihan yang elegan bagi Pemerintah iaiah mengoptimalkan sektor0sektor yang menikmati berkah seperti minyak sawit,karet,dan komoditas pertambangan yang harganya melambung, bukan justru menggangu pengembangannya. Dari ekspor minyak sawit saja, potensi tambahan  penerimaan APBN akan meningkat.


PENUTUP
Kesimpulan
Kenaikan harga BBM  akan sangat membebani  masyarakat. Karena akan berdampak besar tehadap kebutuhan yang dikonsumsi dari masyarakat itu  sendiri. Seperti kenaikan sembako, kenaikan tarif dasar listrik, kenaikan biaya transportasi umum yang menjadi transportasi masyarakat.


0 komentar:

Posting Komentar