BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Munculnya IFRS tak bisa lepas dari
perkembangan global, terutama yang terjadi pada pasar modal. Perkembangan
teknologi informasi (TI) di lingkungan pasar yang terjadi begitu cepat dengan
sendirinya berdampak pada banyak aspek di pasar modal, mulai dari model dan
standar pelaporan keuangan, relativisme jarak dalam pergerakan modal, hingga
ketersediaan jaringan informasi ke seluruh dunia. Dengan kemajuan dan
kecanggihan TI pasar modal jutaan atau bahkan miliaran investasi dapat dengan
mudah masuk ke lantai pasar modal di seluruh penjuru dunia. Pergerakan mereka
tak bisa dihalangi teritori negara. Perkembangan yang mengglobal seperti ini
dengan sendirinya menuntut adanya satu standar akuntansi yang dibutuhkan baik
oleh pasar modal atau lembaga yang memiliki agency problem.
Saat ini, terdapat dua kekuatan besar
di bidang standar akuntansi, yaitu US-GAAP dan IFRS yang sebelumnya dikenal
sebagai International Accounting Standard Committee (IASC). Memang, hingga saat
ini IFRS belum menjadi one global accounting standard. Namun standar ini telah
digunakan oleh lebih dari 150-an negara, termasuk Jepang, China, Kanada dan 27
negara Uni Eropa. Sedikitnya, 85 dari negara-negara tersebut telah mewajibkan
laporan keuangan mereka menggunakan IFRS untuk semua perusahaan domestik atau
perusahaan yang tercatat (listed). Bagi Perusahaan yang go international atau
yang memiliki partner dari Uni Eropa, Australia, Russia dan beberapa negara di
Timur Tengah memang tidak ada pilihan lain selain menerapkan IFRS.
Proses yang panjang tersebut akhirnya
menjadi apa yang disebut IFRS, yang merupakan suatu tata cara bagaimana
perusahaan menyusun laporan keuangannya berdasarkan standar yang bisa diterima
secara global. Jika sebuah negara beralih ke IFRS, artinya negara tersebut
sedang mengadopsi bahasa pelaporan keuangan global yang akan membuat perusahaan
(bisnis) bisa dimengerti oleh pasar dunia. Namun, beralih ke IFRS bukanlah
sekedar pekerjaan mengganti angka-angka di laporan keuangan, tetapi mungkin
akan mengubah pola pikir dan cara semua elemen di dalam perusahaan. (Sumber:
Akuntan Indonesia, edisi no 17, Juni, 2009.)
BAB 2
PEMBAHASAN
A.
Definisi
IFRS
IFRS
(Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu upaya untuk memperkuat
arsitektur keuangan
global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi
informasi keuangan. IFRS
merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International
Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional
(International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama
dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat
Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi
Akuntansi Internasioanal (IFAC).
Badan Standar Akuntansi
Internasional (IASB) yang dahulu bernama Komisi Standar Akuntansi Internasional
(AISC), merupakan lembaga independen untuk menyusun standar akuntansi.
Organisasi ini memiliki tujuan mengembangkan dan mendorong penggunaan standar
akuntansi global yang berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat
diperbandingkan (Choi et al., 1999 dalam Intan Immanuela, puslit2.petra.ac.id)
Natawidnyana(2008), menyatakan bahwa
Sebagian besar standar yang menjadi bagian dari IFRS sebelumnya merupakan
International Accounting Standards (IAS). IAS diterbitkan antara tahun 1973
sampai dengan 2001 oleh International Accounting Standards Committee (IASC).
Pada bulan April 2001, IASB mengadospsi seluruh IAS dan melanjutkan
pengembangan standar yang dilakukan.
B.
Struktur IFRS
International Financial Reporting
Standards mencakup:
1.
International
Financial Reporting Standards (IFRS) – standar yang diterbitkan setelah tahun
2001.
2.
International
Accounting Standards (IAS) – standar yang diterbitkan sebelum tahun 2001.
3.
Interpretations
yang diterbitkan oleh International Financial Reporting Interpretations
Committee (IFRIC) – setelah tahun 2001.
4.
Interpretations
yang diterbitkan oleh Standing Interpretations Committee (SIC) – sebelum tahun
2001.
5.
Framework for the Preparation and
Presentation of Financial Statement ( Kerangka Kerja persiapan dan Penyajian
laporan Keuangan ).
Secara
garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar akuntansi. Yang
pertama berkaitan dengan definisi elemen laporan keuangan atau informasi lain
yang berkaitan. Definisi digunakan dalam standar akuntansi untuk menentukan
apakah transaksi tertentu harus dicatat dan dikelompokkan ke dalam aktiva,
hutang, modal, pendapatan dan biaya. Yang kedua adalah pengukuran dan penilaian.
Pedoman ini digunakan untuk menentukan nilai dari suatu elemen laporan keuangan
baik pada saat terjadinya transaksi keuangan maupun pada saat penyajian laporan
keuangan (pada tanggal neraca). Hal ketiga yang dimuat dalam standar adalah
pengakuan, yaitu kriteria yang digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan
sehingga elemen tersebut dapat disajikan dalam laporan keuangan. Yang terakhir
adalah penyajian dan pengungkapan laporan keuangan. Komponen keempat ini
digunakan untuk menentukan jenis informasi dan bagaimana informasi tersebut
disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Suatu informasi dapat
disajikan dalam badan laporan (Neraca, Laporan Laba/Rugi) atau berupa
penjelasan (notes) yang menyertai laporan keuangan.
C.
Konversi Ke IFRS Di Indonesia
Indonesia saat ini belum mewajibkan
bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan IFRS melainkan masih
mengacu kepada standar akuntansi keuangan lokal. Dewan Pengurus Nasional IAI
bersama-sama dengan Dewan Konsultatif SAK dan Dewan SAK merencanakan tahun 2012
akan menerapkan standar akuntansi yang mendekati konvergensi penuh kepada IFRS.
Dari data-data di atas kebutuhan Indonesia untuk turut serta melakukan program
konverjensi tampaknya sudah menjadi keharusan jika kita tidak ingin tertinggal.
Sehingga, dalam perkembangan penyusunan standar akuntansi di Indonesia oleh
Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) tidak dapat terlepas dari perkembangan
penyusunan standar akuntansi internasional yang dilakukan oleh International
Accounting Standards Board (IASB). Standar akuntansi keuangan nasional saat ini
sedang dalam proses secara bertahap menuju konverjensi secara penuh dengan
International Financial Reporting Standards yang dikeluarkan oleh IASB. Adapun
posisi IFRS/IAS yang sudah diadopsi hingga saat ini dan akan diadopsi pada
tahun 2009 dan 2010 adalah seperti yang tercantum dalam daftar- daftar berikut
ini:
1.
IFRS/IAS
yang Telah Diadopsi ke dalam PSAK hingga 31 Desember 2008
a)
IAS
2 Inventories
b)
IAS
10 Events after balance sheet date
c)
IAS
11 Construction contracts
d)
IAS
16 Property, plant and equipment
e)
IAS
17 Leases
f)
IAS
18 Revenues
g)
IAS
19 Employee benefits
h)
IAS
23 Borrowing costs
i)
IAS
32 Financial instruments: presentation
j)
IAS
39 Financial instruments: recognition and measurement
k)
IAS
40 Investment propert
2. IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam
PSAK pada Tahun 2009
a)
IFRS
2 Share-based payment
b)
IFRS
4 Insurance contracts
c)
IFRS
5 Non-current assets held for sale and discontinued operations
d)
IFRS
6 Exploration for and evaluation of mineral resources
e)
IFRS
7 Financial instruments: disclosures
f)
IAS
1 Presentation of financial statements
g)
IAS
27 Consolidated and separate financial statements
h)
IAS
28 Investments in associates
i)
IFRS
3 Business combination
j)
IFRS
8 Segment reporting
k)
IAS
8 Accounting policies, changes in accounting estimates and errors
l)
IAS
12 Income taxes
m) IAS 21 The effects of changes in
foreign exchange rates
n)
IAS
26 Accounting and reporting by retirement benefit plans
o)
IAS
31 Interests in joint ventures
p)
IAS
36 Impairment of assets
q)
IAS
37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets
r)
IAS
38 Intangible assets
3. IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam
PSAK pada Tahun 2010
a)
IAS
7 Cash flow statements
b)
IAS
20 Accounting for government grants and disclosure of government assistance
c)
IAS
24 Related party disclosures
d)
IAS
29 Financial reporting in hyperinflationary economies
e)
IAS
33 Earning per share
f)
IAS
34 Interim financial reporting
Indonesia harus mengadopsi standar
akuntansi internasional (International Accounting Standard/IAS) untuk
memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau
sebaliknya. Namun demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan
perkara mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal. Membahas tentang IAS saat ini
lembaga-lembaga yang aktif dalam usaha harmonisasi standar akuntansi ini antara
lain adalah IASC (International Accounting Standard Committee), Perserikatan
Bangsa-Bangsa dan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development).
Beberapa pihak yang diuntungkan dengan adanya harmonisasi ini adalah
perusahaan-perusahaan multinasional, kantor akuntan internasional, organisasi
perdagangan, serta IOSCO (International Organization of Securities Commissions).
D.
Tujuan IFRS
Tujuan
IFRS adalah :memastikan bahwa laporan keungan interim perusahaan untuk
periode-periode yang dimaksukan dalam laporan keuangan tahunan, mengandung
informasi berkualitas tinggi yang :
1. transparansi bagi para pengguna dan
dapat dibandingkan sepanjang peiode yang disajikan.
2. menyediakan titik awal yang memadai untuk
akuntansi yang berdasarkan pada IFRS.
3. dapat dihasilkan dengan biaya yang
tidak melebihi manfaat untuk para pengguna.
E.
Manfaat Dari Adanya Suatu Standard
Global:
1. Pasar modal menjadi global dan modal
investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa hambatan berarti. Stadart
pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di
seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi lokal.
2. Investor dapat membuat keputusan yang
lebih baik.
3. Perusahaan-perusahaan dapat
memperbaiki proses pengambilan keputusan mengenai merger dan akuisisi.
4. Gagasan terbaik yang timbul dari
aktivitas pembuatan standard dapat disebarkan dalam mengembangkan standard
global yang berkualitas tertinggi.
Hamonisasi telah berjalan cepat dan
efektif, terlihat bahwa sejumlah besar perusahaan secara sukarela mengadopsi
standard pelaporan keuangan Internasional (IFRS). Banyak Negara yang telah
mengadopsi IFRS secara keseluruhan dan menggunakan IFRS sebagai dasar standard
nasional. Hal ini dilakukan untuk menjawab permintaan investor institusional
dan pengguna laporan keuangan lainnya. Usaha-usaha standard internasional ini
dilakukan secara sukarela.
F.
Penerapan
IFRS di Indonesia
1.
Menurut
Sri Mulyani, konvergensi akuntansi Indonesia ke IFRS perlu di dukung agar
Indonesia mendapatkan pengakuan maksimal dari komunitas internasional yang
sudah lama menganut standar ini. “kalau standar itu dibutuhkan dan akan
meningkatkan posisi indonesia sebagai negara yang bisa dipercaya di dunia
dengan tata kelola dan pertanggungjawaban kepada rakyat dengan lebih baik dan
konsisten, tentu itu perlu dilakukan” ujarnya.
2.
Menurut
Rudy Suryanto, SE, M.Acc, AKT (dosen program studi akuntansi UMY). Sebenarnya
penerapan IFRS di indonesia telah di mulai secara bertahap sejak tahun 2007,
namunakan diterapkan penuh tahun 2012.
Saat
standard internasional tidak berbeda dengan standard nasional, maka tidak akan
ada masalah.
Yang menjadi masalah, apabila
standard internasional berbeda dengan standard nasional. Bila hal ini terjadi,
maka yang didahulukan adalah standard nasional (rujukan pertama). Banyak pro dan kontra dalam
penerapan standard internasional, namun seiring waktu Standard internasional
telah bergerak maju.
Dengan
pengadopsian IFRS memang diperuntukkan sebagai contoh bahwa dalam hidup kita
memang mengalami perubahan, dan perubahan ini terjadi akibat adanya
perkembangan dari segala aspek. Namun dalam mengadopsi IFRS , sayangnya masih
terdapat pihak-pihak yang mungkin menentangnya, contoh alasannya adalah pemahaman
yang mungkin masih dirasa kurang. Mengapa tidak, IFRS ini dalam penjelasannya
masih menggunakan bahasa Inggris yang berarti kita harus menerjemahkannya
kedalam bahasa yang sesuai dengan Negara yang akan menganutnya. Dengan ini,
permasalahannya adalah kita memerlukan banya waktu untuk menerjemahkan. Serta
anggapan bahwa dengan pengubahan ini menimbulkan biaya yang lumayan besar, karena inilah pengadopsian IFRS di
Indonesia belum berjalan.
G.
Manfaat Penerapan IFRS
1.
Meningkatkan
kualitas standar akuntansi keuangan (SAK).
2.
Mengurangi
biaya SAK.
3.
Meningkatkan
kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan.
4.
Meningkatkan
komparabilitas pelaporan keuangan.
5.
Meningkatkan
transparasi keuangan.
6.
Menurunkan
biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana melalui pasar modal.
7.
Meningkatkan
efisiensi pengyusunan laporan keuangan.
H. Dampak
Penerapan IFRS di Indonesia
a) Bidaxxng
pendidikan antara lain :
1.
Banyak
menggunakan profesional judgment
2.
Banyak
mengunakan fair value accounting
3.
IFRS
selalu berubah dan konsep yang digunakan dalam suatu IFRS dapat berbeda dengan
IFRS lain
4.
Semakin
meningkatnya ketergantungan ke profesional lain.
5.
Perubahan
text-book dari US GAPP ke IFRS
b)
Dampak
terhadap bisnis :
1.
Akses
ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuangan akan
lebih mudah dikomunikasikan ke investor global.
2.
Relevansi
laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak menggunakan nilai wajar
3.
Disisi
lain, kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila
harga-harg fluktuatif
4.
Smooting
incom menjadi semakin sulit dengan menggunakan balance sheet approach dan fair
value
5.
Principle-based
standars mungkin menyebabkan keterbandingan laporan keuangan sedilit menurun
yakni bila pengggunaan profesional judgment ditumpangi dengan kepentingan untuk
mengatur laba (earning management)
6.
Penggunaan
off balance sheet semakin terbatas.
ETAP
(Entitas
Tanpa Akuntabilitas Publik )
A. Pengertian ETAP
SAK ETAP yang merupakan kepanjangan
dari Standar akuntansi keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
ditetapkan oleh ikatan akuntansi indonesia untuk perusahaan kecil dan menengah.
SAK ETAP ini dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan.
Sesuai dengan ruang lingkup SAK ETAP
maka Standar ini dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas
publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang
tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan tidak menerbitkan laporan
keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna
eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat
langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
Lebih lanjut ruang lingkup standar
ini juga menjelaskan bahwa Entitas dikatakan memiliki akuntabilitas publik
signifikan jika proses pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar
modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau
entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar
masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek,
dana pensiun, reksa dana dan bank investasi.
B. Ketentuan Transisi
- · SAK ETAP diterbitkan tahun 2009 berlaku efektif 1 Januari 2011 dan dapat diterapkan lebih awal yaitu 1 Januari 2010.
- Diterapkan secara retrospektif, jika tidak praktis diperkenankan prospektif.
- Prospektif: Mengakui semua aset dan kewajiban sesuai SAK ETAP, Tidak mengakui aset dan kewajiban jika tidak diijinkan oleh SAK ETAP, Mereklasifikasi pos-pos yang sebelumnya menggunakan PSAK lama menjadi pos-pos sesuai SAK ETAP ,Menerapkan pengukuran aset dan kewajiban yang diakui sesuai SAK ETAP.
- ETAP dapat memilih tetap menggunakan PSAK – IFRS atau menggunakan SAK ETAP.
- Seluruh entitas sampai dengan 31 Desember 2009 menggunakan satu PSAK yaitu PSAK yang berlaku per 31 Desember 2009.
- ETAP yang tetap memilih menggunakan PSAK – IFRS tidak boleh dikemudian hari berubah menggunakan SAK ETAP.
- Entitas dengan akuntabilitas publik yang kemudian telah memenuhi persyaratan sebagai ETAP dapat menggunakan SAK ETAP.
- ETAP yang kemudian berubah menjadi bukan ETAP maka harus menggunakan PSAK – IFRS dan tidak boleh lagi menggunakan SAK ETAP.
C. Karakteristik ETAP
1. SAK
ETAP: Standar akuntansi keuangan untuk
Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
2. ETAP adalah
entitas yang:
a.
Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
b.
Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum
(general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal.
3. Menggunakan
acuan IFRS untuk Small Medium Enterprises.
4. Lebih
sederhana antara lain:
a.
Aset tetap, tidak berwujud menggunakan harga perolehan
b.
Entitas anak tidak dikonsolidasi tetapi sebagai
investasi dengan metode ekuitas.
c.
Mengacu pada praktik akuntansi yang saat ini digunakan
5. Kualitatif
Informasi Dlm Laporan Keuangan :
- Dapat Dipahami,
- Relevan,
- Materialitas,
- Keandalan,
- Substansi Mengungguli Bentuk
- Pertimbangan Sehat,
- Kelengkapan,
- Dapat Dibandingkan,
- Tepat Waktu,
- Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat.
6. SAK ETAP tidak mengijinkan
pengakuan pos-pos dalam neraca yang tidak memenuhi definisi aset atau kewajiban
dengan mengabaikan apakah pos-pos tersebut merupakan hasil dari penerapan
“matching concept”.
7. Saling
hapus tidak diperkenankan atas aset dengan kewajiban, atau penghasilan dengan
beban, kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh SAK ETAP.
1
D. Manfaat SAK-ETAP
1. Diharapkan
dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil, menengah, mampu untuk :
a. Menyusun
laporan keuangannya sendiri.
b. Dapat
diaudit dan mendapatkan opini audit.
Sehingga dapat
menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana (misalnya dariBank)
untuk pengembangan usaha.
2. Lebih
sederhana dibandingkan dengan PSAK – IFRS sehingga lebih mudah dalam implementasinya.
3. Tetap
memberikan informasi yang handal dalam penyajian laporan keuangan.
E.
Penyajian
Laporan Keuangan
1. Penyajian
Wajar, Laporan keuangan menyajikan dengan
wajar posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas suatu entitas. Penyajian
wajar mensyaratkan penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa dan
kondisi lain yang sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset,
kewajiban, penghasilan dan beban.
2. Kepatuhan
Terhadap SAK ETAP, Entitas yang laporan keuangannya
mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh
atas kepatuhan tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan
tidak boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua
persyaratan dalam SAK ETAP.
3. Kelangsungan
Usaha, Pada saat menyusun laporan keuangan,
manajemen entitas yang menggunakan SAK ETAP membuat penilaian atas kemampuan
entitas menlanjutkan kelangsungan usaha.
4. Frekuensi
Pelaporan, Entitas menyajikan secara lengkap
laporan keuangan (termasuk informasi komparatif) minimum satu tahun sekali.
5. Penyajian Yang Konsisten, Penyajian
dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten dan Jika
penyajian atau pengklasifikasian pos-pos dalam laporan keuangan diubah, maka
entitas harus mereklasifikasi jumlah komparatif kecuali jika reklasifikasi
tidak praktis.
6. Informasi Komparatif, Informasi harus diungkapkan secara
komparatif dengan periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK ETAP.
7. Materialitas dan Agregasi, Pos-pos
yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan sedangkan
yang tidak material digabungkan dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi
yang sejenis, Kelalaian
dalam mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat suatu
pos dianggap material jika, baik secara individual maupun bersama-sama, dapat
mempengaruhi pengguna laporan dalam pengambilan keputusan ekonomi.
8.
Laporan Keuangan Lengkap,
Laporan Keuangan Entitas Meliputi:
Laporan Keuangan Entitas Meliputi:
a. Neraca
b. Laporan Laba Rugi
c. Laporan Perubahan Ekuitas
d. Laporan Arus Kas
e. Catatan atas Laporan Keuangan
9.
Identifikasi Laporan Keuangan
a) Entitas harus mengidentifikasikan
secara jelas setiap komponen laporan keuangan termasuk catatan atas laporan
keuangan.
b) Entitias harus mengungkapkan hal
berikut ini dalam catatan atas laporan keuangan: domisili dan bentuk hukum
entitas serta alamat kantornya yang terdaftar, penjelasan sifat operasi dan
aktivitas utamanya.
1
F.
Perbedaan
SAK ETAP VS PSAK – IFRS
1) Materi
SAK ETAP lebih sederhana sedangkan PSAK – IFRS complicated dan rumit.
2) SAK
ETAP cenderung menggunakan basis stewardship sebagai pertanggungjawaban
pengelola kepada stakeholder sehingga cenderung menggunakan prinsip
reliability, sedangkan PSAK – IFRS telah bergeser untuk pemenuhan user dalam
pengambilan keputusan sehingga cenderung menggunakan prinsip relevan.
3) SAK
ETAP tidak mengatur pajak tangguhan
4) SAK
ETAP hanya menggunakan metode tidak langsung untuk laporan arus kas.
5) SAK
ETAP menggunakan cost model untuk investasi ke asosiasi dan menggunakan metode
ekuitas untuk anak perusahaan.
6) SAK
ETAP tidak secara penuh menggunakan PSAK 50/55.
7) SAK
ETAP hanya menggunakan model cost untuk aset tetap, aset tidak berwujud dan
properti investasi. PSAK-IFRS boleh
memilih cost model atau model reavaluasi.
Tujuan laporan keuangan SAK-ETAP
adalah menyediakan informasi keuangan, kinerja keuangan, dan laporan arus kas
suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan
keputusan ekonomi oleh siapa pun yang tidak dalam posisi dapat meminta khusus
untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu. Sedangkan tujuan laporan keuangan
IFRS memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi
keuangan suatu perusahaan yang berguna untuk berbagai penhhuna dalam membuat
keputusan ekonomi.
Tetapi antara
IFRS dan SAK-ETAP memiliki persamaan yaitu ama-sama bertujuan untuk menyediakan/memberikan informasi
bagi pengguna yang nantinya digunakan untuk membuat keputusan ekonomi.
KESIMPULAN
IFRS merupakan standar akuntansi
internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard Board
(IASB). Standar Akuntansi Internasional (International Accounting
Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar
Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi
Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal
(IFAC).
Tujuan
IFRS adalah :memastikan bahwa laporan keungan interim perusahaan untuk
periode-periode yang dimaksukan dalam laporan keuangan tahunan, mengandung
informasi berkualitas tinggi yang :
1. Transparansi bagi para pengguna dan
dapat dibandingkan sepanjang peiode yang disajikan.
2. Menyediakan titik awal yang memadai
untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS.
3. Dapat dihasilkan dengan biaya yang
tidak melebihi manfaat untuk para pengguna.
SAK ETAP yang
merupakan kepanjangan dari Standar akuntansi keuangan untuk Entitas Tanpa
Akuntabilitas Publik ditetapkan oleh ikatan akuntansi indonesia untuk
perusahaan kecil dan menengah. SAK ETAP ini dimaksudkan agar semua unit usaha
menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
PERBEDAAN SAK ETAP VS PSAK – IFRS
·
Materi SAK ETAP lebih sederhana
sedangkan PSAK – IFRS complicated dan rumit.
·
SAK ETAP cenderung menggunakan basis
stewardship sebagai pertanggungjawaban pengelola kepada stakeholder sehingga
cenderung menggunakan prinsip reliability, sedangkan PSAK – IFRS telah bergeser
untuk pemenuhan user dalam pengambilan keputusan sehingga cenderung menggunakan
prinsip relevan.
·
SAK ETAP tidak mengatur pajak tangguhan
·
SAK ETAP hanya menggunakan metode tidak
langsung untuk laporan arus kas.
·
SAK ETAP menggunakan cost model untuk
investasi ke asosiasi dan menggunakan metode ekuitas untuk anak perusahaan.
·
SAK ETAP tidak secara penuh menggunakan
PSAK 50/55.
·
SAK ETAP hanya menggunakan model cost
untuk aset tetap, aset tidak berwujud dan properti investasi. PSAK-IFRS boleh memilih cost model atau model
reavaluasi.
·
Tujuan
laporan keuangan SAK-ETAP adalah menyediakan informasi keuangan, kinerja
keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah
besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapa pun yang tidak
dalam posisi dapat meminta khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu.
Sedangkan tujuan laporan keuangan IFRS memberikan informasi tentang posisi
keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang berguna
untuk berbagai penhhuna dalam membuat keputusan ekonomi.
Tetapi antara IFRS dan SAK-ETAP
memiliki persamaan yaitu ama-sama
bertujuan untuk menyediakan/memberikan informasi bagi pengguna yang nantinya
digunakan untuk membuat keputusan ekonomi.
terima kasih wira :)
BalasHapussangat membantu wira :) terima kasih
BalasHapus